Pages

Selasa, 06 September 2011

SEJARAH TEATER SEMUT KENDAL


SELINTAS PERJALANAN TEATER SEMUT KENDAL

PROLOG
Ketika aku didaulat teman-teman muda anggota Teater Semut Kendal untuk menulis perjalanan Teater Semut Kendal, aku merasa beban sangat berat ada di pundakku. Sebab, sebenarnya aku bukan satu-satunya saksi sejarah yang masih hidup di Kendal. Namun, mungkin karena aku yang masih eksis maka mereka memandang aku-lah yang  paling mungkin menuliskannya. Sebab, bagi mereka, hal ini penting untuk mengenal lebih dalam tentang komunitasnya.
Walau dengan tertatih-tatih karena harus me-review jutaan peristiwa yang berlangsung 29 tahun lamanya, aku paksakan diriku untuk menuliskannya. Wajar bila segala yang aku ceritakan ini hanya sejauh yang aku tahu/mampu ingat. Di luar itu, pasti masih banyak yang belum terungkap. Oleh karena itu, satu permintaanku pada mereka, semua yang aku tuliskan ini harus terus diklarivikasi kepada saksi sejarah lain yang masih ada. Betapa pun, sejarah harus diusahakan seobjektif mungkin, agar mereka mempunyai proyeksi yang lebih tepat mengenai komunitasnya.

BABAK ‘MENDIRIKAN’
Suatu hari di pertengahan tahun 1981, Bambang Suseno, salah seorang penggiat seni di zamannya, menyampaikan kegelisahannya kepadaku untuk mendirikan kelompok teater di Kendal. Pernyataan dukungan langsung aku sampaikan kepada Bung Nono (begitu Bambang Suseno sering kami panggil) atas dasar kegelisahan yang sama. Saat itu, pamor Kelompok Studi Seni Remaja Kendal (KSSRK) yang dikomandani Gunoto Saparie (seorang sastrawan) mulai meredup, bahkan boleh dibilang mati suri.
Kebetulan karena aku harus hijrah ke Semarang untuk menempuh studiku, aku hanya bisa menyarankan kepada Bung Nono untuk mengajak teman-teman lain yang punya kegelisahan serupa. Maka, terkumpullah antara lain Noeng Runua (seorang sastrawan yang juga berteater, kini menjadi redaktur RCTI), Haryo Suseto (kakak Bambang Suseno, kala itu aktif di musik), Moh Isnaini (sekarang menjadi guru di Wonogiri), Qomaruzzaman Effendi  (sekarang jadi pegawai PT Pos di Kisaran) dan Abdul Khamid (alm).
Pada tanggal 4 Oktober 1981, secara resmi Teater Semut didirikan di Balai Kesenian Remaja Kendal. Berdirinya komunitas baru ini oleh beberapa pihak dianggap sebagai salah satu penyebab ‘mati’-nya KSSR Kendal sehingga mengundang pro-kontra bagi sebagian pelaku seni di Kabupaten Kendal saat itu. Pada kenyataannya, justru karena KSSRK tak lagi berkegiatan-lah yang memicu berdirinya komunitas baru sebagai media pengembangan ekspresi dan kreativitas generasi muda dalam bidang seni.
Nama ‘semut’ sendiri dipilih semata mengambil filosofis semut, binatang kecil yang selalu guyub dalam berbagai hal; selalu saling menguatkan dan meneguhkan antar-mereka; penuh rasa kekeluargaan dengan daya hidup yang luar biasa; punya tekad dan kemampuan membela serta mempertahankan diri yang  sangat hebat pula.

BABAK MERANGKAK
Meski pada awalnya aku tidak dapat terlibat langsung secara aktif di dalamnya, Teater Semut terus hidup dan berkembang. Secara organisatoris, kami merangkak tumbuh bagai sekelompok semut merah yang merebak kemana-mana. Qomaruzzaman Effendi (meski  masih tergolong junior saat itu) tapi oleh teman-teman diangkat menjadi Ketua (pertama) Teater Semut Kendal.
Sistem keanggotaan yang bebas dan sangat terbuka, menjadikan banyak remaja terlibat di dalamnya. Kebanyakan mereka pelajar SMP, SMA, beberapa mahasiswa, beberapa karyawan dan beberapa pencari kerja. Dalam kondisi demikian, laiknya komunitas teater di sebuah kota kecil lain,  para anggota cenderung keluar-masuk dalam waktu singkat. Dapat dikatakan sangat jarang yang mau terus bertahan lebih dari dua tahun. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, sebagian besar di antara mereka hanya ‘ikut-ikut’-an. Sehingga secara berkelakar aku sering menyebutnya mirip ‘karang taruna’. Kehadiran mereka sangat dinamis, dengan banyak minat dalam berbagai bidang seni. Jadilah, walau namanya “teater”, tapi juga mengadakan kegiatan seni lain, seperti sastra, musik, bahkan tari. Toh, semua masih berhubungan estetis.
Dalam bidang sastra, hampir seluruh pegiat Teater Semut aktif juga nulis di koran. Dalam bidang musik, Teater Semut pernah menjadi Juara II Vocal Group se-kabupaten dalam Lomba Vocal Group yang diselenggarakan oleh pemda. Beberapa kali aktif mengikuti pergelaran vocal group kala itu.
Dalam bidang teater (sebagai basic kegiatan) pun para anggota terus menempa diri, di bawah pelatih Bambang Suseno dan Noeng Runua. Latihan-latihan rutin dan latihan alam sempat dilaksanakan. Namun karena keberagaman minat itulah yang, menurutku, membuat latihan jadi kurang efektif.
Garapan pertama kami adalah “Perawan di Sarang Penyamun” karya Motinggo Busye dengan sutradara Noeng Runua. Pementasan pertama ini dilaksanakan dengan tajuk Pentas Kawin Teater Lingkar Semarang dan Teater Semut Kendal, dilaksanakan di Gedung Sasana Budaya (sekarang GOR  Bahureso) Kendal. Karena hambatan studiku, saat itu aku hanya menjadi pengamat saat pertunjukan dilaksanakan.
Dalam masa merangkak ini, Teater Semut juga mengembangkan diri dalam bidang lawak. Bambang Suseno, Khoirudin Susanto, Abdul Khamid, Qomaruzzaman Effendi, Marliantina dan (sesekali) aku, mencoba-coba dunia lawak. Kami keluar-masuk desa menerima ‘tanggapan’ masyarakat yang mengadakan hajatan. Beberapa kerjasama dengan lembaga/instansi lain pun dilakukan. Misalnya, dengan BKKBN melalui siaran penyuluhan KB di TVRI. Sayang, kegiatan itu hanya berlangsung satu kali.

BABAK ‘BELAJAR BERJALAN’
Beberapa tahun kemudian, Bung Zaman harus mengejar cita-citanya dengan pergi ke Medan. Jabatan Ketua Teater Semut digantikan oleh Bung Abdul Majid. Sayang, tidak berapa lama, Bung Majid pun hijrah ke Jakarta mengejar hidupnya menjadi seorang ‘kyai’. Dalam keadaan demikian, berdasarkan mufakat seluruh anggota, ditetapkanlah Bung Edi Susilo menggantikan kedudukan Bung Majid. Namun, belum genap dua tahun, Bung Edi juga harus mengejar mimpinya hijrah ke Jakarta.
Dalam babak ini, kami menyiapkan tiga buah naskah paket (sewaktu-waktu siap pentas dan ‘ditanggap’), yaitu: “Pinangan”, “Madu”, dan “Mahkamah di Seberang Maut”. Naskah “Madu” dan “Mahkamah di Seberang Maut” sempat digulirkan, namun sayang, karena keadaan anggota yang makin sibuk dengan sekolah/kuliah dan pekerjaan masing-masing, paket-paket ini akhirnya terbengkalai.
Dalam keadaan krisis anggota, sekitar tahun 1986, Teater Semut Kendal hampir lumpuh akibat kehilangan induk semangnya. Terpaksa, aku sanggup diberi kepercayaan menjadi ketua. Aku katakan ‘terpaksa’, karena saat itu Bung Noeng Runua sudah hijrah ke Jakarta, sementara Bung Nono menetapkan diri menjadi guru yang baik hingga kesibukannya tidak dapat diganggu gugat.

BABAK ‘BERJALAN’
Dalam babak ini keanggotaan Teater Semut benar-benar krisis. Hanya tersisa dua orang yang berani tetap berkomitmen, Bung Munawier Hussain dan aku sendiri. Berdua kami bersepakat tetap menghidupi komunitas ini dengan segala resikonya. Untuk mengatasi kesulitan pendanaan, Bung Nawier dan aku (selanjutnya Bung Singgih Prasetyono ikut bergabung), kami mendirikan TEESKA ENTERTAINMENT. Lembaga ini bersifat profit dan diarahkan menjadi event organizer dalam berbagai bidang. Tujuan utamanya: berusaha secara sah dan halal mencari dana untuk menghidupi Teater Semut.
Dari sisi keanggotaan awalnya memang tertatih-tatih. Namun, berkat kerja ‘setengah mati’ itu, Teater Semut dapat berjalan tegak lagi berkat masuknya banyak anggota baru dari berbagai kalangan. Satu hal yang menarik, pada babak ini kami lebih spesifik menekuni seni teater dan sastra. Ya, komitmen kami berdua (Bung Nawier dan aku) memang ingin lebih fokus hanya pada dua bidang seni itu. Alhamdulillah, justru dalam keyakinan kami yang demikian inilah ternyata banyak peminat lagi. Hal itu lebih didukung dengan dilaksanakannya penggarapan “Wot Atawa Jembatan” karya ANM Massardi.
Selain itu, kami kembali menyiapkan beberapa naskah paket dengan pemain dan sutradara baru. Paket itu berupa empat buah naskah: “Kebebasan Abadi”, “Pinangan”,  “Orang Kasar”, dan “Korban”. Pada kenyataannya, sempat beberapa kali “Pinangan”, “Orang Kasar” dan “Korban” ditanggap, hingga beberapa kali keliling ke sekolah, desa-desa dan instansi yang membutuhkan. Namun, sayang, bergulirnya waktu membuat beberapa anggota yang terlibat dalam paket-paket itu kembali memilih profesi masing-masing dan sibuk di dalamnya. Sehingga terpaksa proyek paket itu pun terhenti lagi setelah berlangsung lebih kurang tiga tahun.
Pada babak ini juga mulai kami adakan acara Lomba Baca Puisi se-Kabupaten Kendal memperebutkan Trophy Bergilir Bupati Kendal. Untuk selanjutnya mulai sekitar tahun 1994, kegiatan itu kami kemas dalam Gelar Budaya Teater Semut Kendal, dengan jenis lomba dan skop yang lebih luas (se-Jawa Tengah) sampai saat ini.
Melalui Gelar Budaya ini, diselenggarakan berbagai jenis lomba: baca puisi (tingkat umum se-Jawa Tengah, tingkat SD, tingkat SMP, tingkat guru se-Kabupaten Kendal), akting, tulis puisi, tulis surat cinta, tulis cerpen, festival teater, bercerita bahasa Jawa, mewarnai, melukis, dan sebagainya. Kegiatan lain yang dikemas dalam Gelar Budaya adalah pentas teater.
Dalam babak ini juga dapat dilaksanakan program yang sejak lama menjadi impianku: anggota Teater Semut menjadi pelatih di berbagai sekolah. Program ini mulai dapat terlaksana sejak 1995 hingga sekarang. Misalnya: Aslam Kussatyo (1995, MAN Kendal), M. Nasori (2005, SMA N 1 Kendal), M. Hidayat (2007, SMKN 1 Kendal), Susilo (2008, SMK NU Al-Hidayah Kendal), Isrowiyah (2009, SMA Pondok Selamat Kendal) dan sebagainya.
Satu lagi, babak ini mulai meluncurkan motto (sejujurnya itu adalah semangat pribadiku) yang berbunyi: MENGALIR TANPA HANYUT, BERKARYA TANPA BANYAK KATA.

BABAK KONTEMPORER
Kepengurusanku berlangsung sangat lama, karena keadaan anggota yang selalu keluar-masuk. Jangankan melakukan reorganisasi, proses regenerasi pun sempat beberapa kali mengalami hambatan. Anggota yang berani mempertahankan komitmen pada seni teater makin tahun makin sulit diperoleh. Hingga pada akhir 2009, dapat dilaksanakan reorganisasi melalui pemilihan umum yang luber. Semenjak akhir 2009, Ketua Teater Semut Kendal dipercayakan kepada Bung Susilo.


EPILOG
Aku yakin masih banyak yang masih harus ditambahkan dalam ceritaku ini. Banyak hal yang baik tapi juga ada kelemahan-kelemahan di setiap generasi. Maka, mudah-mudahan cerita ini dapat terus disempurnakan dan dilengkapi sehingga dapat dijadikan alat introspeksi untuk kemajuan bersama.
Mudah-mudahan, Teater Semut tidak mati sampai kapan pun, bahkan ketika para pendahulunya lampus. Dinamika pasti terjadi. Yang penting, bagaimana kita mengatasi dan menyikapi nya dengan bijak/dewasa.


Kendal,  7  Agustus 2010
Aku,


Aslam Kussatyo

























INFO-INFO PENTING
A.   Beberapa naskah yang pernah dipentaskan antara lain:
1.     Anak Perawan di Sarang Penyamun ( Karya: Motinggo Busye) -1982
2.     Mahkamah di Seberang Maut (Karya: Imam Prakosa) - Paket
3.     Pinangan (Karya: Anton Chekov) – Paket
4.     Madu (Karya: Anton Chekov) – Paket
5.     Joko Bodho (Karya: Darwin Khudori)  - 1984
6.     Ayahku Pulang – 1985
7.     Ruang Tunggu – 1985
8.     RT Nol RW Nol ( Iwan Simatupang) -1986
9.     Matahari di Sebuah Jalan Kecil ( Arifin C Noor) -1987
10.Bila Malam Bertambah Malam ( Putu wijaya) – 1988
11.Roro Ireng – 1989
12.Wot Atawa Jembatan ( ANM Massardi) – 1990
13.Orang – Orang Malam (Putu wijaya) – 1991
14.Kebebasan Abadi ( CM Naas) – 1992
15.Korban (Putu wijaya) – 1994
16.Galur ( Aslam Kussatyo) – 1995
17.Orang Kasar (Anton Chekov) - 1996
18.Rintrik ( adaptasi Aslam Kussatyo) – 1997
19.Sang Pemburu ( adaptasi Alex Poerwa) – 1998
20.Korban (Putu wijaya) – 1999
21.Refleksi Keagunganmu – 2000
22.Garba ( Aslam Kussatyo) – 2001
23.Issyu (Heru Kesawamurti) – 2002
24.Refleksi Kemerdekaan I (Aslam Kussatyo) – 2003
25. Garba ( Aslam Kussatyo) – 2004
26.Refleksi Kemerdekaan II (Aslam Kussatyo) – 2004
27.Konstelasi Tata Warna (Aslam Kussatyo) – 2004
28.Pentas Peduli Aceh (Aslam Kussatyo) – 2005
29.Rintrik (Aslam Kussatyo) – 2005
30.Kuda –Kuda ( NM. Massardi) – 2006
31.Refleksi Kemerdekaan III(Aslam Kussatyo) – 2007
32.Pentas Hari Anti Narkoba (Aslam Kussatyo) – 2008
33.Labirin Sukma (Aslam Kussatyo) –  Gelar Budaya 2008
34.Labirin Sukma (Aslam Kussatyo) – Pentas Keliling Empat Kota 2009
35.Mayat ( Putu Wijaya) – 2009
36.Dramatisasi  Puisi awal tahun di Teater Gema IKIP PGRI Semarang  - 2010
37.Dramatisasi  Puisi ( Seratus Hari Gusdur) – 2010
38.Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan (Nicollo Machiavielli) – 2010
39.Rungkat  ( Aslam Kussatyo)-2010
40.Belum Tengah Malam - 2011
B.   Yang merancang stempel Teater Semut Kendal :   Edi Susilo.

C.    Yang membuat mars Teater Semut Kendal :   Mas Prie GS.





Kamis, 07 April 2011

Cerpen Gelar Budaya 2010

pemenang Menulis cerpen Gelar Budaya 2010

 S  I  N  O  K
Nana Riskhi Susanti


“P
ercuma, pintunya dikunci!”
“Mereka kemana?” 
”Ke rumah sakit.”


”Ini aku juga mau ke sana, tapi kan mau ganti baju dulu.”
” ....”
”Kenapa memandangi aku seperti itu?”
”....”
Kepriben? kowen durung ngarti?”
”Apa maksudmu?”
Simbahmu ninggal..
Setiap aku melewati gang menuju rumahku, seringkali perasaan tidak enak ini muncul. Perasaan tidak enak? Lebih tepat jika aku sebut rasa takut. Ya, rasa takut pada Masmaut. Ini sebutanku untuk malaikat pencabut nyawa yang sering dikisahkan guru madrasahku. Sejak kecil, aku dan teman-temanku sering membayangkan dengan wajah sumringah sosok malaikat pencabut nyawa itu: Laki-laki berbadan seperti raksasa tapi tampan. Gang yang tidak sempit dan juga tidak lebar ini selalu menyampaikan bisikan Masmaut padaku: cepat pulang sebelum mereka pergi.
Setiap aku melewati gang menuju rumahku, perasaan takut ini muncul. Aku menatap lekat-lekat pandangan orang-orang, membaca kemungkinan, karena mereka adalah kejujuran yang bisa kulihat. Mereka selalu mengabarkan sesuatu dengan gerak-gerik yang bisa kutebak. Jika ayahku sedang ditagih hutang oleh lintah darat keparat, mereka akan menatapku jijik seolah-olah berkata: makan uang panas sih kamu! Jika ibuku menangis tersedu karena adu mulut dengan ayah yang suka selingkuh, maka mereka menatapku dengan berapi-api: gadis malang!
Kali ini, perasaan takut ini benar-benar menghujaniku. Aku takut terlambat pulang dan salah satu dari mereka yang aku cintai pergi. Aku membaca tanda, barangkali mereka mau memberi tahu apa aku masih beruntung atau tidak. Tapi tanda-tandanya aku tidak beruntung. Tidak seperti biasanya, mereka memandangku dengan muka memelas dan mengasihaniku. Bu Darti yang biasanya bermuka nisan pun malah menanyaku, kenapa baru pulang. Aku terus melangkah, melangkah, dan melangkah, mempercepat menuju rumah.
Kali ini Masmaut tidak berbisik, tapi berbicara: kamu terlambat pulang.

***

Pintu rumah masih terkunci. Aku sendiri.
”Tadi malam aku lek-lekan di rumah sakit. Simbahmu menanyakan anak dan cucunya semua.”
“....”
“Simbahmu pengen ketemu kamu tadi malam. Lima hari ini kamu tidak ke rumah sakit kan?”
”Iya.”
”Malah sibuk kencan!”
”Aku mencintai simbah melebihi yang Sampeyan tahu. Aku tidak menungguinya di rumah sakit karena aku sedang ujian.”
”Lebih berharga mana nilai rapotmu dengan nyawa simbahmu?
Sampeyan pasti bisa menjawab sendiri”
”Rapot?”
”Simbah!”
”Lha terus, kenapa tadi jawab: sedang ujian?”
”Saya ingin simbah bangga pada saya.”
Simbah, kenapa Masmaut tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkan maaf padamu?
Dari arah selatan, mobil jenazah datang. Mereka datang membawa simbahku tercinta. Keluarga besarku satu per satu datang. Sebentar kemudian, mereka mulai menata persiapan pemakaman. Nisan, kain mori, dan kembang telon dibeli. Pak lebe dipanggil untuk memimpin salat jenazah dan prosesi pemakaman. Aku dan ibu tidak bisa melakukan apa-apa, selain hujan airmata. Aku terbawa ke masa lalu, kenanganku dari kecil hingga kini. Rekaman itu, berkelabat seperti film-film bioskop yang diputar bergantian.

***

Pemakaman dua jam lagi. Kembang telon mulai dicuci. Nisan mulai dinamai.
”Sabukku rusak! Beli dong Bu..”
“Ibu tidak punya uang!”
“Bapak…”
”Berisik!”
”Tapi kan nanti aku dihukum guru BK..”
”Kamu akan bapak hukum kalau terus meminta uang!”
”Berapa harga sabuk yang ingin kamu beli, Nok?”
”Sepuluh ribu, Mbah..”
”Ya sudah, besok beli, mbah kasih uang.”
Matur nuwun, Mbah.”
Terkadang, aku merasa jahat padanya. Ia janda dari pensiunan polisi hutan. Tiap bulan ia hanya menerima empat ratus ribu rupiah. Itu kalau selamat dari incaran budhe. Sebab budheku dua tahun ini menawarkan diri untuk mengantarnya mengambil uang pensiunan, lalu berobat tiap Jumat sore ke dokter Nani (dokter umum langganan simbahku yang mengerti betul penyakit komplikasi simbah). Padahal, akulah yang selalu menemaninya. Sejak aku berumur tujuh tahun, simbah selalu membawaku untuk menemaninya ambil uang pensiunan. Kami pakai becak. Pertama ke arah selatan, ke kantor perhutani. Selanjutnya ke arah utara, ke kantor pos kecamatan.
Sebetulnya, niat budhe memang baik, karena dia kan anak pertama dari simbah. Pasti ingin mbhakti pada ibunya. Keputusan budhe itu ternyata seperti udang di balik batu. Uang simbah selalu berkurang dua ratus lima puluh ribu. Ia cuma mengantongi seratus lima puluh ribu, itu pun hanya cukup untuk berobat. Ia menceritakan ini padaku. Hanya padaku kecurangan budhe boleh ia bagi, dan aku harus menjaga rahasia ini. Karena itulah, aku merasa jahat padanya kalau aku minta uang. Tapi apa boleh buat, ibuku tidak memberi uang karena bapak tidak memberi jatah. Untuk makan saja, saat ini, selalu pakai uang simbah. Jalan terakhir setelah hutang ibu menumpuk di bakul pasar.

***

Pemakaman satu jam setengah lagi. Kembang telon sudah dicuci. Nisan sudah dinamai.
”Bubur cadil, Mbah..”
”Nanti sebentar lagi. Kita subuhan dulu.”
”Baik...”
”Nok, kita ke pasar saja ya, sekalian simbah ingin jalan-jalan, menghirup udara segar.”
” Tapi aku beli jajan yang banyak ya?!”
Kami melangkah, lewat damparan rel kereta api. Rumahku memang dekat dengan jalur kereta api. Aku bersijingkat, berjalan meniti rel, menjaga keseimbangan, tapi tetap jatuh juga. Di atas rel itu, hidup berjuta-juta harapan bakul pasar. Mereka tidak punya pilihan lain untuk mengais rezeki kecuali menjajakan barang dagangan mereka di atas rel karena pasar terlalu sempit untuk jumlah pedagang yang beribu, sehingga ada yang harus rela berjualan di atas rel. Pasar tidak mampu menampung harapan mereka.
”Kalau ada kereta, mereka kasian dong Mbah.. nanti dibawa Masmaut di kereta...”
”Bakul-bakul itu pasti menepi kalau lonceng berbunyi.”
”Di atas rel ada Masmaut?”
”Malaikat ada di mana-mana. Di atas rel, di rumah, di sekolah, di tempat tidur, di jalan raya, bahkan di kedua pundakmu juga ada malaikat.”
”Kalau di sini sih malaikat pencatat amal baik dan buruk, bukan Masmaut.”
”Kamu pintar, Nok. Maksud mbah, kematian itu datangnya bisa di mana saja, kapan saja. Karena, malaikat pencabut nyawa yang kamu namai Masmaut itu tidak mungkin asal cabut. Ia menunggu perintah.”
”Tuhan?”
”Benar.”
”Kenapa Dia menyuruh Masmaut mencabut nyawa manusia?”
”Yang datang dari tanah, akan pulang ke tanah.”
”Kapan kita pulang ke tanah?”
”Kapan saja.”
Begitulah, di atas rel yang menghidupi harapan pedagang bawang, sayur-mayur, bumbu dapur, sapu ijuk, cabe, dan lainnya, aku dan simbah selalu bicara tentang apa saja.
”Mbah, itu ada bubur cadil!”
Kami membeli dua bungkus bubur cadil. Dan melanjutkan langkah di atas rel.

***

Pemakaman satu jam lagi. Tamu, kerabat, sanak saudara menciumi simbah untuk yang terakhir kali.
Tamasya bersama anak-anak TK ke Jogjakarta. Ibuku sedang hamil tua. Simbahlah yang mengantarku ke sana. Tanganku digandeng erat-erat, sejak keluar dari rumah hingga kembali ke rumah. Ia begitu menjagaku. Takut aku diculik, takut aku kesasar, takut aku hilang. Ia menyuapiku ketika aku lapar dalam bis. Tapi sebenarnya, aku tahu simbah sangat tersiksa ikut tamasya, karena perjalanan ke Jogja memakan waktu yang lama, sekitar 8 jam dari Tegal. Simbah dan aku sama-sama punya kebiasaan mabok di perjalanan. Tapi simbah begitu pandai menahan rasa sakitnya. Ia bilang, bahagia sekali bisa jalan-jalan bersama cucunya.
Kami sampai di Borobudur. Segera kami meniti tangga yang sangat tinggi itu. Aku menuntun langkah simbah, yang sudah renta. Di hati kami hanya ada cinta yang membara, sehingga sepegal apa pun kaki kami menapaki tangga yang tak rampung-rampung, kami tetap berbahagia. Sampai di atas, aku langsung mendekati stupa besar. Ada orang yang mendekatiku, dan bilang kalau tanganku sampai menyentuh lonceng stupa itu, segala permintaanku akan terkabul. Aku percaya waktu itu. Aku masukkan tangganku, mencoba memanjang-manjangkan lengan untuk meraih lonceng. Tapi tidak bisa, mataku meneropong ke dalam stupa lewat celah-celah stupa. Ternyata loncengnya masih empatkali lipat jauhnya dari tanganku. Aku tidak berhenti. Berkali-kali aku coba. Sampai aku jatuh dan simbah datang.
Simbah membawaku turun, karena tidak mau mitos tidak masuk akal itu membuatku terluka. Lalu kami naik kereta-keretaan di taman candi. Cuma ada dua kereta. Satu kereta berisi 3 rangkaian saja. Jadi, pengunjung yang ingin naik harus berebut. Kami menempuh jalan pintas, menyeberang tengah taman, melompati rumput perdu dan tanaman berduri yang tidak aku mengerti namanya hingga kakiku digigiti semut rang-rang (semut merah) yang menempel banyak sekali. Betapa sakitnya. Kata simbahku, ini adalah pengorbanan.

”Kalau mau meraih harapan, harus berkorban”
”Tapi kenapa tadi waktu aku berusaha meraih lonceng stupa itu simbah melarang?”
” Itu hanya mitos.”
”Aku ingin mewujudkan harapan”
”Itu keretanya, ayo cepat naik, mengko ora kebagian”

***

Pemakaman tiba. Kembang telon di keranjang. Keranda berarak. Kami menapak menuju pekuburan.
”Jangan menjelek-jelekkan bapak!”
”Bapakmu itu, laki-laki brengsek. Simbah tidak pernah dibuat bahagia. Justru sengsara. Dia menantu yang paling keterlaluan.”
”Aku tahu bapak selingkuh, tapi...”
”Simbah kasian pada kamu, juga pada ibumu. Harta bapakmu terhambur-hambur, itu semua lari ke tempat maksiat. Judi, minum arak, main wanita. Bapakmu salah memilih teman. Mereka cuma bisa menghabiskan harta bapakmu.”
”Bu, atiku wis lara, aja diterusna.....”
”Bagaimana kalau aku sudah tidak ada? Siapa yang akan melindungi kamu, anakku?
”Ibu! Jangan bilang seperti itu. Ibu akan tetap menemaniku”
”Ibu sedih memikirkan suamimu. Dia akan membuatmu dan cucuku sengsara.”
”Mbah, berhenti menghina bapak!!”
” Nok, minta maaf pada simbah. Tidak sepatutnya kamu bicara kasar padanya!”
” Mbah keterlaluan sih, bu..”
” Ayo cepat minta maaf”
”Aku berangkat dulu”
” Sinok!”
Sekarang masa kanakku sudah berlalu. Aku menjadi remaja yang beranjak dewasa, sudah mengenal cinta, khianat dan pura-pura, dan mengerti peliknya masalah rumah tangga. Aku sudah jadi gadis berusia lima belas. Aku paham semuanya, ketika Simbah sering murung semenjak bapak membuka cafe baru. Cafe melati. Simbah tidak setuju dari awal. Karena menu cafe adalah minuman keras, life dangdut music dengan biduan-biduan seksi dan nakal. Mbah berfirasat buruk kalau cafe itu hanya akan menghancurkan keluargaku.
Dan benar, bapakku kena tipu. Cafenya bangkrut karena piutang atas pembelian bir, senilai seratus  juta, dibayar dalam bentuk cek. Cek itu kosong dan bapak kehilangan modal. Untuk melanjutkan cafe, ia pinjam rentenir karena utangnya di Bank pun belum lunas. Harapan bahwa cafe akan memberi pemasukan yang lebih untuk membayar utang rentenir berujung di nol besar. Cafe sepi pengunjung, karena dicekal warga dan ulama sekitar. Giliran ada pengunjung, itu cuma teman-teman bapak yang licik. Mereka makan dan minum tanpa bayar. Bon, katanya. Bon berkali-kali tanpa ada pelunasan. Aku sedih melihat bapak: bangkrut dan ditagih rentenir sana-sini, sampai-sampai polisi pun menyegel rumah kami.

***

Kami tiba di pekuburan. Simbah dimakamkan dengan hikmat. Aku menciumi wajahnya, masih seperti dulu: tenang dan ayu.
Keranda dibuka. Simbah dipulangkan ke tanah. Kembang telon ditaburkan di atasnya. Kali ini, Masmaut tidak berbisik, tapi bicara: kamu terlambat pulang. Tapi aku percaya, simbah membawa serta kenangan-kenangan itu, terutama peristiwa terakhir itu. Aku janji, Mbah, aku akan mengembalikan bapak ke asal mula hatinya, yaitu ibu. Percaya kan Mbah? ****